INDRAMAYU – Musim kemarau telah menimbulkan gagal panen (puso) pada ribuan hektare tanaman padi di Kabupaten Indramayu. Hal itupun memicu naiknya harga gabah pada areal yang berhasil panen pada musim gadu (kemarau) kali ini.
Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, menyebutkan, luas areal tanaman padi yang mengalami puso pada musim gadu tahun ini mencapai 10.670 hektare. Kondisi itu tersebar di sejumlah kecamatan, yakni Kecamatan Kroya, Gabuswetan, Terisi, Patrol dan Balongan.
“Umur tanaman padi yang mati itu sekitar 30 hari setelah tanam,” kata Sutatang,(16/10/2026).
Akibatnya, lanjut Sutatang, para petani yang tanamannya mengalami puso itu mengalami kerugian yang besar. Pasalnya, mereka sudah mengeluarkan biaya sejak awal musim tanam mulai dari pengolahan tanah, pembibitan, persemaian hingga pemupukan pertama.
Menurutnya, areal tanaman padi yang puso itu sumber airnya berasal dari Waduk Jatiluhur dan Bendung Cipanas. Saat tanaman padi membutuhkan air, pasokan air dari sumber tersebut justru minim hingga akhirnya menyebabkan puso.
Untuk Waduk Cipanas, saat itu penyebabnya adalah belum optimalnya infrastruktur saluran air yang menuju persawahan. Namun sekarang, saluran tersebut dikabarkan sudah normal.
“Insya Allah (pasokan air dari Waduk Cipanas) ke depannya aman,” ucap Sutatang.
Sementara itu, di sisi lain, areal persawahan lainnya di Kabupaten Indramayu justru berhasil panen dengan hasil produksi yang cukup tinggi. Selain itu, hargagabah yang mereka panen juga jauh lebih mahal dibandingkan harga pembelian pemerintah (HPP).
Sutatang menyebutkan, hasil panen petani di Kabupaten Indramayu saat ini rata-rata diatas tujuh ton per hektare. Bahkan, untuk daerah-daerah yang memperoleh pasokan air yang cukup, hasil panenya bisa mencapai sembilan ton per hektare.
“Untuk puncak panen sekarang sudah terlewati. Tapi masih ada yang panen walau spot-spot,” jelasnya.
Tak hanya diuntungkan dengan hasil panen yang berlimpah, para petani juga semakin sumringah dengan tingginya harga gabah. Untuk gabah kering panen (GKP) di tingkat petani, ada di kisaran Rp 8.500 – Rp 9.000 per kilogram dan gabah kering giling (GKG) sekitar Rp 9.500 per kilogram.
“Kalau HPP-nya, untuk GKP di angka Rp 6.500 per kilogram dan GKG Rp 7.400 – Rp 8.000 per kilogram,” jelasnya.
Sutatang memperkirakan, tingginya harga gabah saat ini salah satunya disebabkan adanya puso yang dialami petani di sejumlah daerah. Karenanya, para tengkulak berani menawar harga mahal demi memperoleh pasokan gabah.(*/Dang)

