SURABAYA – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Jawa Timur kembali meningkat. Gunung api tertinggi di Pulau Jawa ini tercatat mengalami erupsi pada Sabtu (17/10), tepat pukul 10.42 WIB.
Petugas Pos Pemantauan Gunung Semeru, Agastya Rajendra mengatakan, berdasarkan pantauan visual, letusan mengeluarkan material vulkanik dengan tinggi kolom abu mencapai kisaran 1.000 meter dari atas puncak gunung, atau sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut.
Kepulan abu vulkanik tersebut, kata Agastya terlihat berwarna putih hingga kelabu pekat, bergulung dengan intensitas tebal yang terbawa embusan angin ke arah barat.
“Tinggi kolom letusan teramati 1000 meter di atas puncak atau 4676 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat,” kata Agstya dalam keterangannya.
Aktivitas vulkanik juga terekam dengan amplitudo maksimum 25 milimeter dan durasi 137 detik. Agastya memastikan, Gunung Semeru saat ini masih bertahan pada status Level III atau Siaga.
“Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 25 milimeter dan durasi 137 detik,” jelasnya.
Menyusul kejadian itu, pihak pos pemantauan langsung mengeluarkan sejumlah larangan tegas sebagai langkah mitigasi bencana. Masyarakat dilarang keras untuk melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara, khususnya di sepanjang aliran Besuk Kobokan dalam radius 13 kilometer dari pusat letusan.
Bahkan untuk area di luar batas jarak tersebut, warga tetap diwajibkan untuk menjauhi area sempadan sungai paling tidak pada jarak 500 meter di sepanjang aliran Besuk Kobokan.
Langkah antisipasi ini diambil lantaran kawasan lembah sungai tersebut sangat rentan tersapu oleh awan panas serta aliran lahar yang berpotensi menjangkau jarak hingga 17 kilometer dari puncak kawah.
“Kami melarang warga untuk beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Api Semeru karena sangat rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar,” kata Agastya memperingatkan.
Pusat pemantauan juga mengimbau seluruh elemen masyarakat, warga sekitar lereng, hingga penambang pasir untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman material vulkanik susulan yang sewaktu-waktu bisa turun melalui jalur sungai.
“Masyarakat harus selalu mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil anak sungai Besuk Kobokan,”tuntasnya.(*/To)
