PALEMBANG – Kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membekap udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) selama sepekan terakhir.
Mengutip dari laman Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), status kualitas udara di ibu kota Sumsel itu pada Jumat (9/10) pagi ini adalah Bahaya.

Hal itu terpantau lewat pantauan Konsentrasi Partikulat 2,5 (PM2,5) di dua pos pantau di Palembang yakni di Musi 2 dan Talang Betutu.

“09 OKT 2026, 7.00 WIB, 383.6 µg/m3, Kategori: Berbahaya,” demikian status di Talang Betutu yang diakses pada waktu dan laman yang sama pagi ini.

Sementara itu, berdasarkan pantauan dari Stasiun Klimatologi (Staklim) Sumsel kurun waktu 24 jam terakhir, kualitas udara di Kota Palembang untuk PM2,5 adalah 371.32 µgram/m³ (di atas Nilai Ambang Batas).

“Kondisi cuaca pada saat pengukuran: Asap,” demikian informasi Staklim Sumsel yang diterima wartawan, Jumat pagi ini.

NAB PM2,5 berdasarkan Baku Mutu Udara Ambien Nasional merujuk pada PP 22/2021 adalah 55 µgram/m³ dalam 24 jam.

“Efek jangka pendek PM 2,5 yaitu penyakit jantung, paru-paru, bronkitis, dan serangan asma. Efek kesehatan ini berdampak pada bayi, anak-anak, dan lansia,” demikian penjelasannya.

Prakiraan cuaca hujan
Masih informasi dari Staklim Sumsel, diprakirakan akan turun hujan di Palembang pada Jumat malam nanti.

Staklim Sumsel merilis informasi bahwa Stasiun Kelas II Sultan Mahmud Bdaruddin II Palembang BMKG memprakirakan turun hujan di wilayah itu dengan curah sedang dan ringan antara pukul 22.00 hingga 01.00 dini hari WIB.

Angin ke arah utara dengan kekuatan maksimal 12 km per jam, dan kelembaban udara di rentang 40-99 persen.

Peningkatan hotspot
Sebelumnya Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat terjadi peningkatan titik panas (hotspot) sebagai indikator terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah, terutama Kalimantan dan Sumatra.

Dalam siaran pers yang diunggah di situs Kemenhut pada Kamis (8/10), lembaga itu menyatakan secara nasional jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) menunjukkan penurunan tipis dibandingkan sehari sebelumnya.

Namun, di enam provinsi prioritas yang berada di Sumatra dan Kalimantan mayoritas terjadi peningkatan hotspot.

“Dinamika di enam provinsi prioritas menunjukkan perkembangan yang perlu terus diwaspadai. Hotspot high confidence tercatat sebagai berikut: Kalimantan Tengah: 225 titik, meningkat dari 182 titik; Sumatera Selatan: 224 titik, meningkat dari 71 titik; Kalimantan Barat: 47 titik, meningkat dari 34 titik; Kalimantan Selatan: 31 titik, meningkat dari 18 titik; Jambi: 16 titik, turun dari 21 titik; dan Riau: nihil, tetap nihil,” demikian dikutip dari laman tersebut yang diakses Jumat pagi.

Dalam paparan itu, Kemenhut kembali menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit, sehingga tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar.

“Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan langsung untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan menentukan tindakan penanganan di lapangan,” tuturnya.

Kemenhut juga memastikan pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, serta para pihak terkait.

Sejauh ini pemerintah tetap menyiagakan 61 unit armada udara, yang terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing.

Dalam siaran pers itu, Kemenhut menyatakan pemerintah juga terus memantau kondisi udara berdasarkan konsentrasi PM2,5 sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat. Pantauan terkini menunjukkan sebagian wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang, namun sejumlah wilayah masih menunjukkan kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, terutama pada beberapa bagian Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Papua.

“Pada sebagian wilayah Kalimantan juga masih terlihat kantong dengan kategori berbahaya, sehingga perkembangan kualitas udara dan pergerakan asap terus menjadi perhatian,” demikian dipaparkan Kemenhut.

“Kondisi udara dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta dinamika atmosfer lainnya,”lanjutnya.(*/Gint)

By admin