MAJALENGKA – Musim kemarau panjang tahun ini membawa dampak bagi warga di Kabupaten Majalengka. Sebanyak 17 desa yang tersebar di 11 kecamatan dilaporkan mengalami krisis air bersih dan sangat bergantung pada bantuan air.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka pun bergerak cepat melakukan pendistribusian air bersih ke wilayah-wilayah yang terdampak. Untuk pengiriman air bersih itu, BPBD Majalengka juga bersinergi dengan instansi lain, seperti PDAM, Polres, Kodim dan PMI Kabupaten Majalengka.
Penata Penanggulangan Bencana Ahli Pertama Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Majalengka, Wawan Suryawan, mengungkapkan, pengiriman bantuan air bersih dilakukan secara rutin untuk membantu memenuhi kebutuhan warga. “Sudah sekitar 438.000 liter air bersih yang telah disalurkan kepada masyarakat,” ujar Wawan, Minggu (4/10/2026).
Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Majalengka, 17 desa yang mengalami kesulitan air bersih itu, yakni Desa Bantrangsana, Desa Baribis, Desa Bongas Kulon, Desa Cibodas, Desa Cijati, Desa Cipaku, Desa Cisambeng, Desa Girimukti, Desa Heuleut, Desa Leuwimunding, Desa Liangjulang, Desa Lojikobong, Desa Munjul, Desa Palasah, Desa Sukajadi, Desa Sumberjaya, dan Desa Surawangi.
Wawan mengatakan, hingga kini pun pengiriman air bersih masih dilakukan di desa-desa yang mengalami krisis air bersih. Di sejumlah daerah pun dilaporkan sudah mulai ada yang turun hujan meski dengan intensitas yang masih rendah.
“Masih sedikit, belum banyak,” tutur Wawan.
Sementara itu, tak hanya krisis air bresih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Majalengka juga meningkat. Sepanjang September 2026, dilaporkan terjadi 28 kejadian karhutla. Jumlah itu mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 23 kejadian karhutla.
“Karhutla masih mendominasi kejadian kebencanaan pada September kemarin,” terang Wawan.
Wawan pun mengingatkan bahwa musim kemarau masih terjadi meskipun beberapa kali Kabupaten Majalengka diguyur hujan. Menurutnya, percikan api di lahan yang masih kering memiliki potensi untuk memicu terjadinya karhutla.
“Kami bersama TNI, Polri, Satpol PP, dan pemerintah kecamatan sudah melakukan penyuluhan ke tiap desa mengenai kewaspadaan trejadinya karhutla. Kesadaran masyarakat untuk mencegah karhutla selama ini masih kurang,” tandasnya.(*/Dang)
