Monday, May 21st

Last update09:45:21 AM GMT

Seruan Elite Demokrat Boikot Media Kebablasan

E-mail Print PDF

JAKARTA - Seruan Ketua Biro Bidang Hukum dan HAM Partai Demokrat Jemmy Setiawan agar seluruh kader Partai Demokrat, terutama elitenya, memboikot media massa dikecam banyak pihak. Seruan itu dianggap sebagai bentuk dari arogansi dan ketidaksiapan untuk menerima kritik dan kebebasan pers.

Seperti diketahui, akhir pekan kemarin, Jemmy dalam siaran persnya meminta seluruh kader Demokrat tak lagi mengkonsumsi pemberitaan atau meladeni wawancara dari media massa yang dinilainya hanya mengadu domba internal partai dan selalu mendiskreditkan nama SBY dan Partai Demokrat melalui pemberitaan.

Menurut peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) J Kristiadi upaya boikot media massa yang dilontarkan Ketua Biro Bidang Hukum dan HAM Partai Demokrat Jemmy Setiawan hanya akan menuai badai. Kristiadi mengatakan, rencana boikot itu justru menjadi bumerang bagi partai berlogo bintang tersebut.

Menurutnya, Demokrat besar dan dikenal masyarakat karena media. "Ini kalau nanti dibalas betul-betul media ikut memboikot, baru Demokrat tahu rasanya. Demokrat besar bukan karena politik, tapi karena media yang dulu begitu menyanjung Pak SBY. Kalau Demokrat lakukan itu, Demokrat akan menuai badai," ujar Kristiadi, Senin pagi (20/2/2012) di Jakarta.

Menurutnya, media pun telah sering digunakan partai tersebut untuk melakukan pencitraan. Oleh karena itu, boikot bukan cara elegan untuk menampik kritik terhadap Partai Demokrat, melainkan cara berpikir dan bertindak kerdil.

"Sepanjang tahun kan Demokrat memanfaatkan media untuk membangun citra. Kalau memang merasa ada yang disampaikan media tidak betul, ya pakai melalui jalur lain untuk konfirmasi. Lebih elegan. Ini bisa jadi bumerang, dia kan besar karena media. Tentu media juga tidak seperti malaikat, harus kritis juga," kata Kristiadi.

Sebelumnya diberitakan, Jemmy meminta para kader partai menolak wawancara ataupun dijadikan sebagai narasumber oleh media yang terindikasi punya kepentingan politik tertentu. Menurutnya, media yang memiliki kepentingan politik cenderung memberikan berita yang tidak berimbang dan memberikan banyak jebakan politik. (DAV)

Add comment


Security code
Refresh